Oleh :MUHAMMAD AS
Masjid Baru, Pasar Minggu, Jakarta, 5 September 2007, 18.30 WIB. Justeria Makka, anggota MSO, Yayan Ketua Badko Inbagbar, dan Marijan, Ketua HMI Cabang Sleman tengah ngobrol di teras sekretariat PB HMI-MPO sore itu. Cuaca lumayan bersahabat. Udara cukup sejuk. Hari itu juga tak hujan.
Media Arif Rizki, Ketua Komisi Ekonomi Pembangunan bersama M Kasman, ketua Korp Pengkader Nasional (KPN) dan Candra mantan sekjen PB HMI-MPO sedang berada di ruang tengah. Mereka duduk-duduk di selembar kasur usang tipis berwarna hijau yang menghampar di ruang itu. Tak jauh dari situ ada rak butut berisi sebuah televisi rusak 14 inci. Di bawah televisi ada tape yang siaran radionya dibiarkan menyala pelan.
Tak lama, Imam Mudhofir, Ketua Komisi Lingkungan Hidup datang. Dhofir biasa pulang sore dari tempat kerjanya di Manggala yang bertetanga dengan Gedung DPR di kawasan Senayan. Dhofir menyalami.
”Hai, dari mana saja,” tanya saya.
”Biasalah” jawab Dhofir sembari senyum-senyum.
”Aku punya jajanan pasar nih”
Dhofir membuka isi tas ranselnya. Dia mengeluarkan kantong plastik kresek warna hitam berisi tiwul, ketan hitam, cendol berwarna-warna yang terbungkus duan pisang. ”Saya beli di Manggala tadi.”
Makanan itu disantap bersama. Majid Bati, dari komisi internal lalu ikut nimbrung. Tak lebih dari lima menit makanan tradisional itu ludes.
”Katanya Dipo milad besar-besaran di Bidakara ya,” tanya Dhofir.
”Iya, saya mau kesana. Ikut ga” Jawab saya sembari mengajaknya.
”Ngapain?”
”Liat-liatlah”
Malam ini, HMI-Dipo merayakan miladnya di Hotel Bidakara dekat kawasan Pancoran Jakarta. Milad mereka diadakan besar-besaran. Presiden SBY-JK dikabarkan bakal datang ke acara tersebut. Inilah perhelatan akbar HMI-DIPO setelah beberapa bulan belakangan posisi mereka tidak menguntungkan. Bisa diprediksi milad mereka akan memposisikan HMI-DIPO kembali berdiri dengan gagah di tengah organisasi gerakan mahasiswa lainnya. Tak terkecuali HMI-MPO.
Perhelatan milad HMI-DIPO memang cukup membuat pengurus PB HMI-MPO ”gerah”. Apalagi di hari ulang tahun HMI itu, HMI-MPO memang nyaris tak bikin acara serupa menyambut hari ulang tahunnya itu. Kalaupun ada cuma kecil-kecilan, dan tak sebanding dengan bikinan HMI-DIPO.
Beberapa hari sebelum ini, sebuah poster milad kiriman HMI-DIPO sengaja dipajang di dinding ruang utama rumah itu. Sangat mencolok. Poster itu dipasang menghadap tepat ke pintu masuk utama. Siapapun bisa melihat langsung bila datang ke rumah itu. Saya sempat kaget ketika pertama kali melihatnya.
Sebetulnya HMI-MPO juga menyambut milad HMI. Minggu kemarin (4/2), HMI-MPO PTIQ Jakarta merayakan milad HMI di sana. Pada 8 hingga 12 Februari mendatang di Jogjakarta juga digelar acara serupa. Acaranya ada simposium sejarah, diskusi politik, juga pentas seni. Tapi semua penghuni PB HMI-MPO tahu, acara mereka tak bakal bisa sementereng acara milad HMI-DIPO yang diadakan di hotel berbintang.
Azan mahrib berkumandang. Media Arif Rizki, mengajak seluruh penghuni rumah ke mesjid. ”Ada takjilan di mesjid, ada makanannya loh,” kata Kasman menimpali.
Hampir semua penghuni rumah lalu bergegas ke mesjid yang jaraknya sekitar 200 meter. Kepala Kesekretariatan Anwar Rozak tampak tidak ikut dalam rombongan ke mesjid. Dia sibuk mengetak-getik di ruang komputer. Sementara Dhofir bersiap-siap mandi.
Selepas Mahrib. Muzakkir Djabir, ketua Umum HMI-MPO datang. Muzakir datang sendirian, berbaju santai dengan kaos warna hitam berkerah. Rambutnya disisir seadanya.
”Assalamu’alaikum?’ ucap Muzakir sebelum masuk sembari melepas sepatunya.
Yayan yang sedari tadi duduk-duduk di ruang utama bergegas menghampiri dan menyalami.
”Pak Muzakir ga datang ke Bidakara?” tanya Yayan.
”Enggak”
Muzaikir masuk dan menyalami orang-orang yang berada di rumah itu.
***
Hotel Bidakara, Jakarta, 5 September 2007, 19.30. Karangan bunga ucapan selamat kiriman para pejabat dan politikus dijejer di sepanjang pelataran gedung Birawa, Hotel Bidakara, Jakarta petang itu. Karpet merah terhampar disepanjang di sisi kanan ruang Birawa yang megah. Lantainya dilapisi permadani yang empuk. Penyejuk udaranya dingin. Deretan kursi berjejer-jejer rapi. Lampu-lampu kristal menyala terang di langit-langitnya. Di bagian depan, lampu sorot menyala terang memantulkan cahaya ke panggung berukuran sedang berlatar miniatur mesjid. Pada bagian tengahnya tertulis: Milad HMI ke-60.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla beserta sejumlah pejabat penting pemerintaha baru saja keluar dari ruang komferensi pers yang bersebelahan dengan ruang Birawa. Fajar Zulkarnaen, ketua Umum HMI-DIPO menghantarkan tamu-tamunya memasuki ruang utama. Mereka berjalan diatas karpet merah bak selebritis pada ajang piala oscar. Deretan anak-anak muda berpakaian batik dihiasi kalung dan topi kebesaran HMI mengamankan langkah tamu-tamu penting itu.
Lebih dari 600 orang tamu undangan sudah menunggu. Suara perempuan lalu memecah ruangan.”Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri.” Semua tamu undangan berdiri. Sesaat kemudian rombongan Presiden SBY diikuti para pejabat pemerintah dan para alumi HMI (KAHMI) masuk ruangan. Lagu kebangsaan Indonesia raya lalu bergema. Seluruh tamu undangan ikut menyayikannya.
Presiden SBY duduk di kursi paling depan bersebelahan dengan Fajar dan Yusuf Kalla. Di deretan kusi depan juga tampak Ani Yudoyono, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimmy Assidiqi, sejumlah pejabat dan menteri serta para mantan ketua Umum HMI seperti Eggi Sudjana; Anas Urbaningrum dan Akbar Tanjung. Para petinggi partai juga hadir seperti dari PDIP, PBB, PPP dan Golkar.
Malam itu, Agung Laksono tak tampak hadir.
Fajar Zurkarnaen naik ke panggung memberikan pidato sambutan. Tepuk tangan dari para tamu menyambut saat ketua HMI itu naik mimbar. Fajar berpidato sekitar setengah jam. Fajar memakai peci dan kalung kebesaran HMI dibalut baju batik warna coklat. Celana warna hitam.
Dalam pidatonya Fajar mengemukaan sulitnya membangun ”HMI Baru” pasca kongres HMI keduapuluhlima di Makasar. HMI Baru, kata Fajar adalah HMI yang ingin mengakhiri masa kebekuan HMI yang sudah terjadi sejak tahun 1990, yakni generasi HMI yang memitoskan generasi sebelumya, berlindung dan menuai kedekatan dari kebesaran generasi HMI sebelumnya. Tak lupa Fajar mengajak alumni HMI untuk ikut ”turun tangan” membantu HMI memperbaiki dirinya.
” Rasanya tak adil bila perubahan HMI harus ditangggung oleh anggota dan pengurus HMI sendiri karena alumni turut andil dalam menciptakan kondisi HMI menjadi seperti ini.” ucap Fajar yang disertai tepuk tangan tamu undangan.
”Kami berharap bahwa KAHMI dapat segera menyelesaikan dualismenya sehingga menjadi satu KAHMI.” lanjut Fajar.
”Kami berharap pemerintah menjadikan Ayahanda Prof. Lapran Pane dapat ditetapkan menjadi pahawan nasional”
Para tamu undangan kembali bersorak tepuk tangan. Ruangan menjadi riuh.
Fajar juga menyinggung persoalan bangsa. Dari soal pemutusan hubungan Indonesia dengan IMF dan CGI, pendidikan, amandeman UUD 1945 hingga persoalan gerakan anti korupsi.
Usai berpidato, Fajar kembali disambut tepuk tangan meriah. Beberapa diantara tamu bahkan ada yang sampai berdiri memberi penghormatan.
Karnoto Sarkasi, sekretaris pertama HMI di tahun 1947 menyusul menyampaikan pidato kehormatan. Kartono disambut tepuk tangan meriah dari seluruh tamu yang hadir.
Karnoto satu diantara duapuluh satu orang yang mendirikan HMI pada 1947. Hanya ada dua pendiri HMI yang masih hidup. Karnoto salah satunya. Karnoto kini sudah tua, badannya ringkih dan kurus.
”Nama saya Karnoto. Tahun 1947 bersama Lapran Pane sebagai mahasiswa UII Jogkakarta mendirikan organisasi islam yang pernah ada sebelumnya bernama HMI. ” Demikian Karnoto memulai pidatonya. Tamu undangan terperangah, tepuk tangan berkali-kali terdengar.
”HMI, satu nama yang gagah pada zaman itu. Dan sampai sekarang dijunjung tinggi oleh ”pemeluk” HMI,”
Karnoto merasa bangga organisasi yang didirikan bersama Lapran Pane kini mejadi begitu besar. Dia bangga kadernya ada yang jadi menteri, perwira. ”Bapak Kalla alumni HMI, saya bangga…” katanya.
Tepuk tangan kembali terdengar. Kartono lalu melanjutkan. ”Hari ini HMI menjadi organisasi kelas satu. ” ucap karnoto sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
Tamu undangan sekali lagi memberikan sambutan tepuk tangan meriah sembari berdiri. Ruangan begitu ramai dengan suara-suara simpatik.
Lalu giliran Presiden SBY memberi sambutan. ”Selamat kepada HMI dimanapun Anda berada,:” kata Presiden. Dia mengatakan HMI adalah organisasi yang tetap konsisten berjuang menegakkan nilai-nilai islam dalam konteks keindonesiaan. HMI harus dapat dapat menjaga teguh integritas intelektual yang dilandasi nilai-nilai keislaman yang abadi dan universal.
Menurut Presiden, HMI telah banyak melahirkan tokoh-tokoh yang telibat dalam memecahkan sejumlah persoalan bangsa. ”HMI bukan hanya melahirkan ribuan cendikiawan, tetapi juga telah melahirkan para pemimpin bangsa yang terkemuka antar lain Bapak Jusuf Kalla dan lainnya,” kata Presiden disambut tepuk tangan meriah.
Seusai membacakan pidato, SBY menulis sebauah pesan untuk HMI. Fajar sekali lagi maju kepanggung mendampingi Presiden menuliskan pesannya kepada HMI.
Malam itu, Kalla tak memberikan sambutan.
Presiden SBY, Jusuf Kalla beserta rombongan meninggalkan ruangan sekitar pukul 21.00. Fajar dan seluruh sesepuh alumni HMI mengantar rombongan Presiden keluar ruangan. Semua orang berdiri. Beberapa politikus berebut ingin disapa dan menyalami Presiden SBY.
Sebuah film dokumenter tentang sejarah HMI kemudian diputar. Film itu berdurasi pendek sekitar lima menit, mengambarkan perjalalan HMI dari saat masa awal kemerdekaan, pemberontakan PKI, pemberlakuan azaz tunggal hingga menimbulkan perpecahan di tubuh HMI dan masa HMI sekarang.
Beberapa foto tempo dulu juga dipajang di sebelah ruang utama. Para tamu undangan bisa melihat foto-foto itu sembari santap makan malam ala hotel berbintang.
Di ruang utama, para pengurus HMI-Dipo tampak merayakan kesuksesannya malam itu. Beberapa diantara mereka berfoto-foto. Semua terlihat gembira.
***
Pukul 22.00 di sekretariat PB-HMI-MPO. Muzakir masih sibuk mengetik di depan komputer. Justeria dan Warijan sedang dudukdi teras depan. Candra, Dhofir sudah tertidur di ruang tengah dekat televisi. Tampak pula Syahrool yang lagi sibuk di dapur membuat telor ceplok dan merebus mie instan buat santap malam.
Kasman menyambut Ghofur, sekum HMI MPO Cabang Jakarta Selatan dan Budiharto, Ketua HMI Cabang Depok yang baru datang dari acara milad HMI-Dipo.
”Gimana Acaranya? Ramai?.” tanya Kasman.
”Ramai sekali” jawab Ghofur.
Muzakir keluar dari ruang komputer lalu menyambut kedatangan keduanya dan menyakan hal yang sama. Dhofir terbangun diatara pembicaraan itu. Lalu dia juga menyanyakan hal yang sama pula.
”SBY sama Kalla dateng ya?”tanya Dhofir sembari menahan dingin dan kantuk.
”Ya, tidak hanya mereka, ada banyak.” jawab Budi.
Budi dan Ghofur lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di milad HMI-Dipo. Dia menceritakan ramainya acara itu, juga orang-orang penting yang turut hadir. Dari pejabat, menteri, politisi hingga seluruh organisasi kepemudaan.
Ghofur dan Budi juga cerita soal yang lucu-lucu. Dari soal Andi Malarangeng yang ketawa-ketiwi saat paduan suara yang hambar menyayikan himne HMI, sampai perilaku Eggi Sujana yang mendapatkan ucapan selamat dari Jimmy atas keberhasilannya mendapat lima suara dalam pemilihan ketua PPP.
Candra, Dhofir, Majid Bati sibuk. Mereka sesekali nyetuk pengin bikin acara tandingan. Ada yang usul MPO mengundang Ahmadinejed, Mahatir Muhammad, atau George Bush.
”Atau Paus Benediktus sekalian, pasti heboh.” ucap Candra diiringi ketawa.
”MPO memang ditakdirkan jadi pinggiran” kata Dhofir menimpali.
”La iya tiap hari makan mie terus, berjenggot, jomblo…independennya keblabasan..”
Orang-orang kembali ketawa.
Malam semakin larut. Ghofur dan Budi bersiap pulang. Candra sudah terdiam. Dhofir bersiap kembali tidur. Muzakir tampak sudah tak berada di ruang komputer, hanya Anwar yang masih sibuk di ruang itu.
Malam semakin dingin. Jarum jam menunjukkan pukul 12 malam. Lampu rumah satu per satu dipadamkan. Para penghuni rumah itu terlelap kedinginan di malam ulang tahunnya.
Sumber www.hminews.com
Prev: Menatap Masa Depan HMI Bersama Fajar
Next: Tasyakur Milad HMI Ke-60