bontang publis

Media Silaturrahmi

Reaktualisasi Gerakan Oposisi Menjawab Stagnasi Gerakan Mahasiswa

Oleh :AZWAR M. SYAFE’I

Kalau dilihat berbagai momen perubahan selama ini secara pemahaman umum kita tentunya tidak akan terlepas dari peran yang coba diambil gerakan mahasiswa, katakanlah dalam konteks Indonesia sendiri mulai dari masa Proklamasi, penurunan rezim orde lama, penumbangan Suharto sebagai pemegang otoritas masa Orde baru sampai menggulirkan reformasi hampir tidak mungkin menafikkan peran mahasiswa, sekedar mengingatkan memori kolektif kita bersama setiap zaman perjuangan mahasiswa dalam melawan ketidakadilan tentunya akan berbeda sesuai dengan tuntutan serta kondisi sosial saat itu, akan tetapi meskipun masanya berbeda – beda kalau coba kita tarik garis singgung ada beberapa identitas menjadi warna perjuangan tiap zaman yang harus dimiliki mahasiswa antara lain Pertama mencerminkan semangat kepemudaan dengan karakter dasar selalu bersuara bila melihat ketimpangan serta ketidakadilan, kedua menjaga independensi dalam artian sesungguhnya dimana gerakan mahasiswa bukan pesanan dari mana – mana dia keluar murni sebagai kekuatan mewakili suara ketertindasan dalam struktur social masyarakat, ketiga komitmen, dalam garis perjuangannya selalu menjaga dan tetap tegar apa – apa yang disuarakan dan tidak terpengaruh iming – iming meterialistik sehingga tanggung jawabnya bukan hanya secara horisontal lebih – lebih secara vertikal. Secara normatif kalau tiga identitas ini sudah melekat dalam diri mahasiswa sudah dapat dipastikan bahwa akan membentuk energi secara organis sebagai salah satu pilar terpenting bagi bergulirnya perubahan di negeri ini.

Sekilas membedah gerakan mahasiswa dalam settingan sejarah perubahan Indonesia, selama ini selalu mengalami berbagai dinamika perubahan berkaitan dengan model gerakannya meskipun secara umum kita bisa melihat tema – tema usungan gerakan mahasiswa selalu mencerminkan aura anti terhadap kekuasaan dan kecendrungan kuat menerapkan cara – cara vis a vis dengan negara, pertanyaan berikutnya adalah apakah pilihan gerakan yang diturunkan dalam tema – tema aksi memang dominan dipengaruhi kondisi eksternal dalam artian konstelasi sosial politik memang mendukung untuk mengambil pilihan gerakan tersebut atau kemudian pilihan – pilihan ini berangkat dari pengaruh dalam diri gerakan mahasiswa, yang secara garis besarnya adalah ada pengaruh idiologi, doktrin perjuangan.Kalau kita coba menangkap landasan gerakan dari dua hipotesa diatas akan muncul, bahwa gerakan dilakukan mahasiswa akibat dominasi seluruhnya pengaruh kondisi diluar dapat dipastikan dia akan bergerak ketika memang terjadinya momen, sederhananya gerakan mahasiswa bergerak ketika telah terbentuknya momentum. Pada kondisi kedua dari hal diatas dia dituntun dengan eksperimen yang sangat tinggi dengan kecendrungan spekulatif berusaha membuat momentum sendiri dalam hal mempengaruhi perubahan yang terjadi.

Pertanyaan mendasar dalam kesempatan ini adalah mengapa gerakan mahasiswa pada dekade sebelum reformasi begitu massif dalam melakukan aksi – aksinya, sementara pasca 98 gerakan mahasiswa hampir menjadi gerakan yang sangat mandul serta gagap dalam merespon berbagai kondisi disekitarnya, bahasa sederhanaya adalah terjadi disorientasi dalam diri gerakan mahasiswa. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut yang harus dipahami apa latar belakang yang mempelopori kondisi tersebut. Ketika pada suatu kondisi dimana kekuatan negara dalam hal ini pemerintahan sangat kuat menjelaskan kekuasaan dengan cara menekan secara langsung melalui kebijakan – kebijakan yang tidak populis dan represif. Sejalan dengan kondisi tersebut kekuatan – kekuatan diluar kekuasaan tersebut secara organis akan melakukan proses konsolidasi karena pilihan konsolidasi dilakukan akibat didukung oleh wajah tampilan kekuasaan pemerintahan yang menjelma sangat sentralistik dan otoritarianisme, seperti yang disebut diatas konsolidasi terjadi akibat didukung tekanan langsung diluarnya yang terukur, akan tetapi berbeda kondisinya apabila kekuatan negara tidak lagi bersifat sentralistik namun sudah sangat terbuka, dalam artian hampir seluruh kebijakannya secara prosedural selalu mengharapkan keterlibatan public secara langsung. Pada sisi ini tampilan luar Negara sudah menonjolkan aspek humanis dalam merumuskan kebijakannya, sehingga dalam hal – hal tertentu kekuatan negara tidak lagi dapat diukur kerena sudah mengalir secara bebas tanpa mampu dikontrol, variable penentu sudah sangat banyak terutama kekuatan modal. Situasi ini kalau ditarik dalam konteks konsolidasi perubahan dilakukan gerakan mahasiswa akan tercapai bukan lagi dipengaruhi kekuatan diluarnya yang terukur, tetapi akan sangat berpengaruh dari model – model kreatifnya sendiri, artinya konsolidasi akan terbangun apabila ada inisiatif dari dalam gerakan, mengingat situasi realitas diluarnya berada pada kondisi yang sangat abstrak dan susah diukur sejauhmana kekuatannya. Maksud dari keabstrakannya kalau di bahasakan secara sederhana lagi dikarenakan bentuk penjelmaannya sudah sangat komplek sampai menjangkau dalam bentuk – bentuk fakta social terkecil sekalipun dari prilaku masyarakat.

Berangkat dari penjelasan diatas nampaknya pilihan yang harus dipilih gerakan mahasiwa untuk menjawab terjadinya kemandekan dalam membaca berbagai perkembangan realitas kekinian adalah juga sangat dipengaruhi dari caranya menganalisis serta mengevaluasi sejauh mana bangunan garis singgung yang terbentuk antara model pilihan gerakannya dan arah perkembangan perubahan menjurus kemana, nampaknya sekarang ini gerakan mahasiswa berada pada kondisi kedua yang seperti diuraikan diatas yaitu menghadapi suatu kondisi yang sangat komplek dimana kekuatan – kekuatan muncul dengan sangat abstrak dan sulit terukur, dalam hal berikutnya upaya konsolidasi tidak akan terbangun kalau hanya mengharapkan pada pengaruh kondisi luar yang terukur karena realitas sekarang ini telah terjun bebas serta berubah menjadi pendulum yang setiap saat dapat menggelinding dimana saja, untuk itulah menjawab posisi gerakan mahasiswa perlu adanya strategi baru dalam mengakomodasi berbagai suara perubahan yang dicita – citakan, dimana kekuatan terbangun harus datang dari dalam dirinya sendiri, karena bentuk kekuatan seperti ini memiliki energi sangat besar serta bersifat orisinil, salah satunya adalah membangun kekuatan oposisi gerakan, dimana bangunannya di kembangkan dari tafsir operasional idiologi gerakan disamping juga mempertimbangkan peluang situasi keterbukaan untuk membuat jalan baru gerakan alternative diluar mainstream.

Pemahaman gerakan oposisi di era modern harusnya memiliki penafsiran yang berbeda sebagaimana di pahami secara umum dari pengertian – pengertian lama, dimana oposisi di pahami sebagai suatu reaksi hitam putih, anti terhadap realitas dengan memiliki kecenderungan tidak konstruktif adalah sudah harus di tinggalkan. Oposisi dalam penafsiran yang baru harusnya gerakan yang bisa memberikan kerangka alternative dari arus besar berbasis materialistik dan lebih penting lagi secara filosofis oposisi tidak disandingkan dalam kerangka struktur kekuasanaan social politik menjadi dasarnya, dimana akan melahirkan cara memposisikan apakah gerakan dibangun sebagai pusat atau pinggiran, namun jauh dari itu harus bersifat universal, keoposisian di bangun atas dasar ketidak sepakatan terhadap nilai yang berkembang menjurus pada ketidakadilan dan ketertindasan. Sehingga dalam pengertian ini gerakan oposisi secara operasional akan berkembang sesuai dengan kebutuhan dalam pencapaian mewujudkan cita – cita bersama, tidak terjebak pada hal – hal yang sifatnya temporer.

Prinsip gerakan oposisi yang harus dikembangkan minimal harus memenuhi standar serta target – target dalam kapasitasnya sebagai kekuatan baru dalam hal kepeloporan perubahan, pertama upaya konsolidasi membangun berbagai kekuatan dalam rangka membingkai potensi ide gagasan dengan cara melembagakannya menjadi termanifestasi dalam kemunculan peran – peran strategis diambil, kedua transformasi nilai menjadi ruang tersendiri dalam setiap langkah perjuangan yang dirumuskan, ini menjadi basis kekuatan yang terus dikembangkan dalam masalah menciptakan wadah – wadah baru demi bermuaranya nilai perjuangan yang di cita – citakan dan harus mampu menyentuh berbagai dimensi yang menjadi satu komponen perubahan tersebut. Ketiga agenda – agenda yang lebih praktis diturunkan dalam rangka menjamin terjadinya berbagai interaksi yang memunculkan nuansa maupun pengaruh bersifat mendidik secara mainset dan prilaku. Tiga prinsip dasar ini dalam mengembangkan gerakan oposisi diarahkan kepada reaksi yang dilakukan tidak lagi akibat adanya momen yang terukur diluar dirinya terjadi, namun lebih kepada merumuskan, membuat serta mengarahkan terjadinya momentum tersebut.

Pertanyaan terakhir adalah apakah realitas yang terjadi dalam diri gerakan mahaiswa saat ini bisa dikatakan sebagai kemandekan yang menjurus kepada disorientasi ataukah hanya mengalami masa transisi dalam upaya mencari model baru peran dan fungsinya, semua jawabannya akan dapat terselesaikan apabila langkah awal yang dilakukan adalah dengan sadar merumuskan potensi serta tantangan yang dihadapi dan juga merancang model alternatif yang harus dikembangkan. Terkadang dalam perjalanannya kenapa ada saja seperti yang disinggung Syari’ati selalu terperangkap dalam penjara terbesar yang namanya sejarah. Wallahualam bishowab .

***

Azwar M. Syafe’i adalah aktivis HMI-MPO. Tinggal di Jogjakarta.

Belum ada komentar »

Komentar Anda

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>