bontang publis
Media SilaturrahmiArsip untuk religi
Perempuan dalam Nasyid
Sep 3, ‘07 9:14 AM
Melati di taman hati
mewangi di sanubari
Mekarmu menawan hati
Musim pun menanti
Baca entri selengkapnya »
Menimbang Derajat Diri di Sisi Allah
Jumat, 02 Maret 2007
Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menepatkan (mendudukan) hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukan Allah dalam jiwanya (hatinya)”.
Saudaraku, yang termahal dalam hidup adalah keyakinan pada Allah. Semakin kuat dan mendalam keyakinan kita pada Allah, maka semakin beruntung hidup kita. Betapa tidak, saat itulah kita telah memiliki barang termahal dalam hidup.
Apalah artinya kita memiliki kekayaan melimpah, bila hati kita miskin dari mengenal Allah. Apalah artinya kita dikenal orang banyak, bila kita tidak mampu mengenal Allah. Apalah artinya kita memiliki jabatan tinggi, bila kedudukan kita rendah di hadapan Allah. Intinya, semua yang ada selain Allah adalah cobaan dan fitnah belaka. Walau memiliki dunia, kedudukan kita akan rendah bila tidak mengenal Allah.
Sangat mudah bagi kita untuk mengetahui tinggi rendahnya derajat diri di sisi Allah. Ada tiga tolak ukur. Pertama, dari frekuensi ingat. Dalam 24 jam waktu yang kita miliki tiap hari, berapa jam kita ingat Allah. Saat shalat apakah kita ingat Allah atau ingat yang lain. Saat makan, apakah kita ingat pada Dzat yang mengaruniakan makanan tersebut, atau malah mencela makanan. Saat berangkat kerja, apakah kita sudah meniatkannya sebagai sarana ibadah atau sekadar mencari uang. Saat di perjalanan, apakah kita sibuk berdzikir serta menafakuri ayat-ayat Allah atau malah mata kita jelalatan. Bila hati kita selalu nyambung pada Allah dalam kondisi apapun juga, maka sesungguhnya Allah telah meninggikan derajat.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menepatkan hamba-Nya, sebagaimana hamba itu menempatkan Allah dalam jiwanya (hatinya)”. Kedua, sejauh mana usaha kita untuk “menyenangkan” Allah. Tinggi rendahnya derajat kita di sisi Allah dapat terlihat dari senang tidaknya kita melakukan amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Allah menyukai shalat berjamaah 27 kali lipat daripada shalat sendirian.
Apakah kita termasuk orang yang bersegera pergi ke masjid tatkala adzan berkumandang, atau malah sibuk dengan urusan dunia? Allah menyukai kedermawanan. Apakah kita sudah termasuk orang yang dermawan? Allah menyukai hamba-hamba yang dekat dengan Alquran. Apakah kita telah bersungguh-sungguh berinterkasi dengan Alquran? Semakin kita gigih “menyenangkan” Allah dengan melakukan amalan yang dicintai-Nya, insya Allah derajat kita akan tinggi di sisi-Nya.
Ketiga, sejauh mana kegigihan kita menghindarkan diri dari maksiat. Salah satu ciri kedekatan seorang hamba dengan Allah, terlihat dari kesungguhannya dalam menjauhi maksiat. Adalah kenyataan bila manusia tidak akan pernah luput dari dosa. Namun, orang-orang yang berkedudukan tinggi di sisi Allah, akan segera bertobat saat ia terjerumus ke dalam maksiat. Ia menyesal, kemudian ber-azam untuk tidak mengulangi kesalahan, dan menggantinya dengan kebaikan yang lebih banyak. Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah akan bahagia dengan dosa, tidak memiliki penyesalan, dan mengulanginya lagi di lain kesempatan.
Saudaraku, jangan ada yang ditakutkan dalam hidup ini, kecuali takut tidak dapat mengenal Allah. Harta, pangkat, jabatan, ketenaran, atau ketampanan rupa sama sekali tidak bernilai, bila hati kita hampa dari mengingat Allah. Maka kita harus mulai mengubah cita-cita hidup: cukuplah menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia, dan berkedudukan tinggi di hadapan Allah. Wallahu a’lam.
( KH Abdullah Gymnastiar )
Menyingkap “Jubah” Ekstremisme Agama
Oleh :LAURA MCALEER & HALA ALI
Washington, D.C./Kairo Mesir – Setelah 11 September, banyak kalangan di dunia Barat yang berjuang untuk mengenali tindak-tindak terorisme dan para pelakuknya secara tepat. Sering kali, orang membaca surat kabar dan menonton berita televisi lalu membuat kesimpulan bahwa tindakan-tindakan tersebut dilakukan atas nama jihad, konsep Islami yang biasa diartikan, dan salah, sebagai “perang suci.” Banyak orang Barat (dan lainnya di penjuru dunia) menyamakan keduanya, membangun kesalahpengertian tentang Islam dan masyarakat Muslim. Kesalahpengertian ini merusak hubungan antara AS dan Arab, dan hanya dapat dikurangi dengan mengenali perbedaan makna yang mendasar antara terorisme dan jihad.Departemen Luar Negeri AS, menurut dokumen kebijakan resmi National Strategy for Combating Terrorism, mendefinisikan terorisme sebagai “kekerasan terencana dan bermotivasi politik yang dilakukan terhadap sasaran-sasaran non-militer oleh kelompok-kelompok sub-nasional atau gerakan-gerakan bawah tanah,” yang biasanya bertujuan untuk mempengaruhi orang. Ini adalah sebuah tindakan yang dikutuk oleh semua agama yang bertujuan mengguncangkan stabilitas kekuatan utama dunia dan berusaha untuk memperlemah kekuatan mereka dan mengancam masa depan mereka.
Peristiwa 11 September jelas sesuai dengan gambaran ini. Namun, kenyataan bahwa serangan-serangan atas gedung World Trade Center dan Pentagon dilakukan oleh sekelompok orang yang bertindak atas nama Islam tersebut telah membawa prasangka yang sangat besar terhadap masyarakat Muslim di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Ini dapat dibuktikan oleh sebuah jajak pendapat Washington Post-ABC News pada bulan Maret 2006, yang melaporkan bahwa 33% orang Amerika percaya Islam memaafkan kekerasan terhadap non-Muslim (naik dari 14% pada 2002). Bahkan orang Amerika yang mengatakan mereka memahami Islam dan yang cenderung melihat agama tersebut penuh perdamaian dan terhormat tidak lebih kecil kemungkinannya untuk mengatakan bahwa agama tersebut melindungi para ekstremis yang berbahaya, dan mereka juga tidak lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki prasangka-prasangka terhadap Muslim.
Apakah definisi jihad yang Muslim rasakan tepat dan inginkan agar dipahami dunia Barat? Kata “jihad” berasal dari akar kata bahasa Arab (Jim Ha Dal) yang berarti memanfaatkan kebijakan dan sifat baik kita, serta rahmat Tuhan untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Lebih khususnya, orang dapat mengatakan bahwa jihad adalah melakukan setiap upaya untuk beribadah dan mematuhi Tuhan, memperoleh ilmu pengetahuan, menasihati orang lain bagaimana caranya berbuat kebaikan dan menjadi orang yang beriman kepada Tuhan, dan bekerja keras menyebarluaskan perdamaian, kebebasan, cinta, dan toleransi. Lebih jauh, kata “Islam” berasal dari kata bahasa Arab “saalam”, yang berarti damai.
Berdasarkan pemaknaan di atas, peristiwa 11/9 dan tindak-tindak terorisme yang dilakukan sejak saat itu karenanya tidak dapat dilihat sebagai tindakan jihad. Bahkan, mereka direncanakan dan dilaksanakan oleh orang-orang yang memilih untuk menggunakan agama mereka sebagai jubah. Sebuah perbandingan dapat dibuat dengan para Pejuang Perang Salib (Crusader): Para Crusader dari Eropa bertindak atas nama Kristen, tetapi ajaran-ajaran Kristen (baik pada waktu itu maupun sekarang) tidak mengizinkan tindakan-tindakan mereka yang mengerikan, bahkan “teroris”. Para ekstremis Islam yang melakukan tindak terorisme kurang lebih serupa dengan para Crusader tersebut; mereka telah salah memahami, salah mengartikan, dan terbiasa tumbuh dalam distorsi-distorsi ajaran agama mereka, dan representasi-representasi salah ini dijadikan dasar tindakan mereka.
Jelas, para Muslim yang terlibat dalam terorisme telah bertindak atas keyakinan pribadi mereka sendiri yang tidak mewakili dengan tepat ajaran dari agama atau keyakinan mayoritas penduduk dunia Muslim. Bahkan, Al Qur’an mengajarkan bahwa, “Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka ia telah membunuh seluruh manusia. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia …”
Kebenaran-kebenaran dasar tentang konsep jihad belum disebarkan secara meluas di Barat. Kurang tersebarnya informasi yang ditimbulkannya tidak hanya menjadi pemutus yang mengecewakan antara kedua kebudayaan, tetapi juga sebuah sumber pendorong utama tindakan teroris. Kenyataan bahwa banyak orang Amerika dan orang Barat lain yang gagal melakukan upaya untuk memahami Islam dan, seperti yang diungkap oleh jajak pendapat di atas, mencurigai semua Muslim yang mereka jumpai, hanya akan mendorong lebih banyak lagi Muslim yang bersembunyi di balik “jubah” ekstremisme Islam. Lingkaran mispersepsi ini semakin memperpanjang kekerasan yang hanya dapat dihentikan melalui pendidikan. Dengan definisi yang tepat dan melalui saling pengertian, “jubah” tersebut dapat disingkap dari mereka yang telah terlibat dalam tindakan-tindakan terorisme di masa lalu, dan potensi tindakan itu di masa depan dapat dicegah.
###
Laura McAleer, seorang mahasiswa Georgetown University dan Hala Ali kuliah di South Valley University of Qena. Mereka berdua berpartisipasi dalam program dialog antarbudaya Barat-Arab, Soliya. Artikel ini disebarluaskan oleh hminews bekerjasama dengan Common Ground News Service (CGNews), Washington, D.C.